Wednesday, February 22, 2017

2017 Europe Trip: Y.O.L.O

Bermula dari informasi November lalu bahwa cuti tahunan gw masih tersisa 18 hari dan harus habis sebelum Maret 2017. Di saat bersamaan, muncul wacana workshop untuk sebuah klien multinasional di London pada kisaran akhir Januari 2017. So ... my darling husband memberikan sebuah ide yang fenomenal: why don't you go to Europe? Pakai uang yang kita kumpulkan untuk antisipasi jika harus mengirim Naima ke universitas swasta, sebelum kita harus mengumpulkan uang lagi untuk biaya sekolah Nara. You deserve it!

Maka berbekal restu itu, mulailah gw mengurus visa Schengen untuk pribadi, karena visa UK nggak akan berlaku di Eropa daratan.

Saat keputusan itu diambil, semua tampaknya mudah dan menyenangkan! Akhirnya one of my lifetime dreams akan terpenuhi, menginjak Eropa daratan, akan terpenuhi! Plus ke London pula! Tapi ... over the month, ternyata kenyataan bukanlah all unicorns and rainbows :-) Perjalanan panjang berliku dimulai bahkan sebelum tiket di tangan ...

Awal Desember 2016 gw mulai menghubungi satu2nya agen tour yang gw kenal dan pernah menguruskan visa team kantor gw ke Australia tahun 2009. Tidak ada jawaban atas email gw. Ketika gw tanyakan via mantan Research Assistant gw, jawabannya, "Nanti dijawab, sekarang sedang sibuk." Naaah... gw kan gak bisa di-PHP-in, jadi dalam 2 hari pindah haluan. Kali ini minta tolong Mbak Suzan Bayik, ratunya perhotelan Indonesia.

Mbak Suzan merekomendasikan teman lamanya yang baik dan ramah serta siap membantu. Tapi setelah paspor dan segala kelengkapan administrasi diserahkan, muncul satu masalah: Mbak teman lama yang ramah ini ternyata metodenya konservatif banget. Triknya kurang jago untuk manuver mengamankan tiket pesawat sekaligus pesanan hotel. Jadi gw diminta memesan hotel sendiri, dan mengurus book dan rebook hingga visa keluar. Lah ... kalau harus ngurus sendiri, ya ngapain gw pakai jasa tour & travel toh?

Terpaksa ganti haluan lagi. Kali ini - masih atas rekomendasi Mbak Suzan - gw mengurus dengan bantuan Kaha Tour. Baru deh di tangan Mas Andrieka Dika dari Kaha, gw mendapatkan servis yang gw mau. Mas Dika sangat profesional dan cekatan dalam mengurus segala keperluan. By December 14, seluruh kelengkapan sudah masuk ke tangan Mas Dika. Konon prosesnya paling lama 21 hari dan gw diminta menunggu jadwal biometrik dari Kedubes Belanda.

Ohya... kenapa Kedubes Belanda? Sebenarnya visa Schengen ini bisa diurus ke negara Eropa mana pun. Tapi berdasarkan bebeberapa informasi, kemudahannya tidak sama. Belanda, sebagai mantan penguasa Indonesia, tergolong yang cukup lenient dalam memberikan visa pada kita. Kalau visanya Belanda, maka pesawatnya harus mendarat pertama kali di Belanda, which is quite OK karena - another blessing in disguise - gw sangat ingin mengunjungi Anne Frank Huis di Amsterdam!

Akhir Desember 2016 gw mendapat kabar bahwa biometrik gw dijadwalkan tanggal 10 Januari 2017. Bukan di Kedubes Belanda, tetapi di VFS Global Office, di Kuningan City. Rupanya sekarang kebanyakan negara satu pintu pengurusan visanya, yaitu di VFS Global.

Naah... di sinilah kenyataan menunjukkan betapa sulit dan terjalnya perjalanan mendapatkan ijin masuk Eropa ini!

Gw beranggapan setelah biometrik prosesnya 2 - 3 hari kelar. Karena pengalaman teman gw mengurus visa Prancis demikian. Pun pengalaman gw terakhir urus visa Australia tahun 2009. Ternyataaaaa .... untuk kedutaan Belanda katanya 7 hari.

OK. Gw panik tapi mencoba sabar. Antisipasi kelar tanggal 17 Januari. Berarti gw baru bisa issued tiket, beli Euro, dan booking hotel setelah itu. Masih 10 hari ... OK-lah. Everything is under control.

Tapiii.... gw jadi benar2 panik ketika sampai tanggal 18 visa belum keluar juga dan belum ada kejelasan kapan keluar! Alamaaaaak.... kan urusan masih panjang: harus confirmed tiket pesawat, confirmed bookingan hotel, beli tiket EuroRail Pass untuk perjalanan kereta antar-kota antar-negara, confirmed ke teman2 yang mau diajak ketemuan, beli Euro ....

Tetapi dengan kegigihan Mas Dika, akhirnya visa itu berhasil keluar di hari berikutnya. And with that visa my story begins ....